Minggu, 19 November 2017 19:13 WIB Jl.Kampung Kalawi RT2 RW5 Telp.(0751)-812860

Pekerja Ritel Hog Kong bak "Makan Buah Simalakama"

Posmetroglobal.co.id - 05 Oktober 2014 16:55:01 WIB
POSMETROGLOBAL.CO.ID, JAKARTA--Gila, hanya itulah ungkapan yang akan terucap ketika mendengar aksi nekat pada demonstrans Hongkong. Sebab, para pengunjuk memblokade daerah-daerah yang merupakan pusat belanja. Padahal, Hong Kong yang merupakan salah satu surga belanja dunia. Mulai dari kaki lima sampai fesyen bermerk kelas dunia dengan harga selangit ada di daerah otonomi Tiongkok ini. Akibatya, para pelaku industri ritel di Hong Kong merasakan dampak dari aksi unjuk rasa menuntut pemilihan pemimpin secara langsung. Aksi demonstrasi yang identik dengan payung ini sudah berlangsung selama dua pekan dan menghambat aktivitas ekonomi didaerah itu. Para demonstrans mendirikan kemah dan bermalam di depan pusat-pusat perbelanjaan. Papan-papan iklan yang memasarkan produk fesyen ternama seperti Louis Vuitton, Burberry, dan sebagainya, kini harus bersaing dengan poster-poster para demonstran yang menuntut demokrasi. Sejumlah toko memilih tutup, sementara sebagian tetap buka meski sepi pembeli. Kantor berita AFP, Minggu (5/10/2014) seperti diberitakan detik.finance melaporkan, "Sektor ritel adalah satu dari empat pilar ekonomi di Hong Kong. Target pertumbuhan ekonomi dari pemerintah untuk tahun ini sudah rendah, sekitar 2%. Situasi yang terjadi sekarang tentunya menjadi tantangan berat," papar Francis Lun, analis keuangan independen. Pada kuartal II-2014, ekonomi Hong Kong hanya tumbuh 1,8%. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 2,6%. Sementara dalam delapan bulan pertama 2014, total penjualan ritel turun 1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. John Tsang, Menteri Keuangan Hong Kong, menyebutkan gelombang aksi protes ini mengancam reputasi Hong Kong sebagai tempat investasi utama dunia. "Perhatian kami adalah potensi penurunan kepercayaan investor terhadap sistem ekonomi di sini," tegas Tsang. Para pekerja ritel mengatakan keluhan serupa. Mereka mendukung adanya demokrasi di Hong Kong, tetapi kerugian yang dialami karena gelombang protes ini sudah cukup besar. "Dalam seminggu ini, setiap harinya keuntungan saya turun 70%. Saya dilema, karena di satu sisi saya mendukung apa yang diperjuangkan ini. Namun di sisi lain, saya kehilangan uang," tutur Chicken Chan, manajer di sebuah apotek di kawasan Mongkok, Hong Kong. Merry Djong, pekerja di sebuah toko perhiasan, juga mengungkapkan pembeli yang datang ke tokonya merosot drastis. "Hanya ada 2-3 pelanggan setiap harinya," ujar dia. Bursa saham Hong Kong sendiri telah terkoreksi sekitar 10%. Meski dampaknya sudah begitu terasa, sebagian analis menilai Hong Kong masih menjadi kekuatan ekonomi yang besar. "Hong Kong masih menjadi salah satu pusat keuangan yang kuat," tegas Michael Kugelman, analis dari Woodrow Wilson International Center for Scholars. Selain itu, ada pula sektor usaha yang diuntungkan karena protes ini. Setidaknya penjualan payung dan kacamata renang meningkat. Payung adalah simbol dari gerakan pro demokrasi ini, sementara kaca mata renang dipakai untuk melindungi mata dari gas air mata. "Saya sudah menjual 60 payung dalam beberapa hari terakhir," ujar seorang pemilik toko, Yip Man Fong. "Penjualan kaca mata renang meningkat. Namun secara umum, keuntungan kami menurun drastis," kata Salina Tsang, pemilik toko olah raga. (***)

TAG :

Komentar FB