Minggu, 19 November 2017 19:19 WIB Jl.Kampung Kalawi RT2 RW5 Telp.(0751)-812860

BBM Naik November

Posmetroglobal.co.id - 19 Oktober 2014 00:25:04 WIB

POSMETROGLOBAL, CO.ID, JAKRTA—Walau dengan tegas dibantah Jokowi soal rencananya menaikan harga BBM usai serah terima dengan Susilo Bambang Yudoyono, akhirnya rencana menaikan harga BBM itu bocor juga. Berdasarkan informasi yang diperoleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung, seperti dilansir kantor berita Antara Sabtu menybutkan, tim pemerintahan terpilih periode 2014-2019 memberi sinyal akan terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada November 2014.

"Informasi yang saya terima dari pemerintahan yang berikut, Insya Allah, rencananya November, mereka akan menaikkan harga BBM," kata Chairul usai menghadiri acara Komite Ekonomi Nasional mengenai prospek Ekonomi 2015 di Jakarta.

Dengan kenaikan harga BBM, menurut Chairul, konsumsi BBM diperkirakan dapat berkurang. Sehingga kuota BBM bersubsidi baik premium dan solar sebesar 46 juta kiloliter, dapat tidak terlampaui.

"Demand-nya akan berkurang," ujar dia.

Jika harga BBM dinaikkan, lanjut Chairul, pemerintah mendatang yang akan membuat program kompensasi untuk dampak ekonomi dan sosial. Pemerintah sekarang, kata dia, hanya mengalokasikan dana kompensasi sebesar Rp5 triliun dalam APBN-Perubahan 2014.

Presiden terpilih Joko Widodo yang akan dilantik 20 Oktober 2014, sebelumnya enggan memastikan waktu harga BBM dinaikkan. Jokowi juga mengaku masih mengkaji besaran kenaikan BBM, dengan beberapa opsi kenaikan harga dari naik Rp500 hingga Rp3.000.

"Baru dalam proses hitung-hitungan. Berapa kenaikan juga belum ditentukan, kapannya juga belum," ujar Jokowi, akhir September lalu.

Padahal, kalangan ekonom menyarankan Jokowi sebaiknya menaikkan harga BBM pada 2014 untuk menegaskan komitmen kepada pasar bahwa Indonesia akan benar-benar melakukan reformasi struktural.

Kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan sentimen negatif akan timbul dari pasar finansial jika Jokowi baru menaikkan harga BBM pada 2015.

Menurut dia, dampak inflasi dan tekanan ekonomi masyarakat jika harga BBM naik November 2014, hanya bersifat sementara, namun dampak positif terhadap perekonomian akan mulai terasa pada 2015.

Misalnya, laju inflasi dan defisit neraca transaksi berjalan pada 2015 akan lebih terkendali akibat kenaikan harga BBM pada 2014.

Perinciannya, jika harga BBM dinaikkan dengan besaran Rp3.000 pada November 2014, pemerintah dapat menghemat total pengeluaran sebesar RP141 triliun secara akumulasi tahunan.

Memang, katanya, inflasi tahunan pada 2014 akan melonjak menjadi 8,47 persen, dan pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi dari 5,3 persen menjadi 5,23 persen.

"Namun dengan sudah dinaikkannya BBM pada 2014, pada 2015 kita perkirakan inflasi dapat ditahan di 5,22 persen, rasio CAD (defisit transaksi berjalan) dibanding PDB juga akan turun," ujarnya.

 

Disisi lain, Chairul Tanjung mengatakan para investor asing masih percaya kepada Indonesia, meskipun suhu politik sempat memanas akibat adanya penyelenggaraan Pemilu.

"Kepercayaan dunia usaha internasional untuk FDI (investasi asing langsung) terhadap Indonesia masih tetap tinggi, masih tetap baik, walaupun di tengah kondisi politik seperti ini," katanya saat di Jakarta, Jumat.

Chairul memberikan apresiasi atas positifnya data pertumbuhan investasi yang baru dirilis oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal, karena situasi politik sempat berjalan di luar perkiraan dan menimbulkan ketidakpastian.

"Bayangkan kalau seandainya situasi politiknya kondusif, pasti pertumbuhannya jauh lebih tinggi lagi," kata mantan Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini.

Untuk itu, ia mengharapkan pemerintahan baru bisa mempertahankan angka pertumbuhan investasi, bahkan meningkatkan angka tersebut melalui beberapa pembenahan, salah satunya dengan mendorong perbaikan iklim investasi.

"Tugas kita mendukung pemerintahan yang baru agar dalam menjalankan tugasnya, bisa membuat bangsa ini lebih maju dan lebih menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia," kata Chairul.

Diberitakan Antara, sebelumnya, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Mahendra Siregar mengaku optimistis bisa menjaga pertumbuhan investasi 2014 sesuai target 15 persen, menyusul realisasi pada triwulan ketiga yang mencapai 16,8 persen.

"Saya optimistis angka ini bisa dijaga hingga akhir 2014. Setidaknya sasaran 15 persen bisa tercapai," kata Mahendra dalam paparan realisasi investasi.

Secara kumulatif, BKPM mencatat realisasi investasi pada Januari-September 2014 mencapai Rp342,7 triliun, tumbuh 16,8 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp228,3 triliun dengan pertumbuhan 14,6 persen.

Melihat pencapaian gemilang tersebut, Mahendra bahkan yakin tahun depan target pertumbuhan investasi minimal bisa menembus angka perkiraan pada kisaran 15 persen hingga 18 persen.

Kendati demikian, ia mengingatkan ada sejumlah faktor yang harus diperhatikan guna menjaga pencapaian target realisasi investasi seperti perbaikan iklim investasi, kemudahan mendirikan usaha hingga peningkatan kualitas pelayanan investasi. (erisman)

TAG :

ekonomi
Komentar FB